Pengetahuan Dan Sikap Wisatawan Remaja DIY Tentang Fenomena Rip Current (Studi Kasus Di Kawasan Wisata Parangtritis Kabupaten Bantul)

Sampai saat ini Kawasan Wisata Parangtritis (KWP) yang berada di Kabupaten Bantul menjadi tujuan wisata terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan jumlah pengunjung mencapai lebih dari satu juta jiwa setiap tahunnya (Disbudpar Bantul, 2016).
Seiring dengan peningkatan jumlah wisatawan di KWP, tentunya berkaitan erat dengan adanya peningkatan aktivitas di pantai yang memang memiliki potensi bahaya rip current. Setiap tahunnya di KWP yang secara administrasi terletak di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul suatu ketika pasti akan mengalami kondisi dimana wisatawan mencapai puncak kunjungannya.
Hal ini dapat terjadi ketika datang musim liburan maupun event-event tertentu. Aktivitas inilah yang akan diikuti dengan peningkatan risiko bencana jika wisatawan tidak memahami fenomena yang akan sering dijumpainya saat bermain air (dalam hal ini adalah berenang maupun mandi) yaitu rip current yang memang seringkali menimbulkan korban, khusunya pada kalangan remaja pelajar sekolah yang berasal dari luar DIY dengan rentang usia 15-17 tahun (BPBD Bantul, 2016).
Seringkali pengetahuan wisatawan terhadap kondisi wilayah dari obyek wisata yang akan dikunjunginya masih rendah, khususnya wisatawan luar daerah Kawasan Parangtritis, sehingga tidak dapat memahami potensi bahaya yang ada dan risiko yang akan dihadapinya. Berdasarkan data yang ditunjukkan dari SAR-LINMAS Parangtritis-Depok menerangkan jika keberadaan rip current menjadi salah satu bahaya yang sering mengancam wisatawan di KWP dan hasil analisis data lima tahun terakhir menunjukkan bahwa lebih dari tigapuluh wisatawan setiap tahunnya menjadi korban bahaya rip current.
Data terakhir pada tahun 2014 hingga 2015 menunjukkan terdapat 84 korban selamat dan 6 korban meninggal (BPBD Bantul, 2015).
Sunarto, dkk (2010) menyatakan bahwa sebaran arus retas di KWP cenderung mengikuti pola sebaran morfologi garis pantai yang membentuk teluk atau biasa disebut dengan tipe pantai (cresentic beach).
Hasil penelitian terbaru tentang arus retas juga mengungkapkan bahwa lebih dari 80% wilayah KWP memiliki tingkat risiko bencana arus retas yang tinggi (Agung, 2015:62).
“Dari 6,75 km total panjang garis pantai lokasi penelitian, sepanjang 5,625 km merupakan pantai dengan risiko tinggi”
Agung (2015:62) kembali menjelaskan bahwa terdapat tiga (3) penyebab tingginya tingkat risiko bencana rip current di KWP, yaitu 1) kemudahan akses untuk menuju pantai; 2) karakeristik pantai yang mendukung terbentuknya rip current; dan 3) gelombang yang relatif tinggi.
“Penyebab pertama tingginya risiko di sebagian besar Kawasan Parangtritis adalah kemudahan akses menuju pantai sehingga mampu dijangkau oleh wisatawan. Penyebab kedua adalah karakteristik pantainya yang mendukung pembentukan arus retas, baik dari kemiringan pantai hingga batimetrinya. Penyebab yang terakhir adalah gelombang yang relatif tinggi dalam hal pembentukan arus retas. Tinggi gelombang di zona risiko tinggi berkisar antara 1,30 meter sampai 2,46 meter”
Hasil penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa gelombang memiliki pengaruh pada kemunculan rip current (Nurfa, 2016:73).
“Frekuensi kemunculan rata-rata menunjukkan bahwa yang paling tinggi terjadi pada pukul 11.00-13.00 WIB, dan yang paling rendah adalah pukul 14.00-15.00 WIB. Kemunculan arus retas pada pagi, siang, dan sore hari dipengaruhi oleh gelombang yang terbentuk dan hembusan angin yang bergerak di Pantai Parangtritis sebagai hasil dari penyinaran matahari yang berbeda pada setiap waktunya”
2012-12-04-parangtritis
Komentar Terbaru